• Home
  • Hukrim
  • Keluarga Napi Beberkan Pungli di Rutan Pekanbaru dari Rp 20.000 Hingga Rp 7 Juta

Keluarga Napi Beberkan Pungli di Rutan Pekanbaru dari Rp 20.000 Hingga Rp 7 Juta

Senin, 08 Mei 2017 13:25
Dibaca: 247 kali
BAGIKAN:
TribunPekanbaru/Budi Rahmat
Personel Brimob melakukan pengamanan di gerbang sisi kanan Rumah Tahanan Sialang Bungkuk, Pekanbaru.

Liputanriau.com, Pekanbaru - Kaburnya 442 orang tahanan dari Rutan Klas IIB Sialang Bungkuk, Pekanbaru, Jumat (5/5/2017) lalu, membuka penyimpangan yang terjadi di dalam rutan. Satu di antaranya dugaan pungutan liar (pungli).

Haji Usman, orangtua salah satu tahanan membeberkan praktek-praktek pungli yang ia ketahui. Misalnya untuk memindahan anaknya ke ruang tahanan lebih layak ia harus merogoh kocek hingga Rp 7 juta.

Usman menceritakan, ruang tahanan anaknya penuh sesak. Seharusnya, ruangan tersebut dihuni belasan orang namun didiami 80 orang.

"Supaya anak saya bisa pindah ruangan saya harus bayar Rp 7 juta. Kalau tidak bayar kasihan anak saya yang diperlakukan tidak manusiawi," kata Usman, kepada Tribun.

Selain itu, pembesuk harus membayar Rp 50.000 jika tidak ingin mengantre saat membesuk. Dengan membayar sejumlah uang itupun waktu kunjungan pun bisa lebih lama.

Namun, sambung Usman, uang tersebut tidak diberikan langsung kepada petugas melainkan kepada Tamping (Napi yang membantu petugas rutan).

"Kalau mau membesuk itukan kita harus mengantre, ya kalau mau cepat harus bayar. Waktu besuk juga dibatasi dan kalau mau lama bayar lagi. Bervariasi ada yang Rp 20.000 hingga Rp 50.000.

Keluarga tahanan lainnya, Erlinda mengatakan, ia harus membayar Rp 2,5 juta supaya sang adik yang terjerat kasus pencurian pindah ke ruang tanahan yang lebih longgar.

"Kasihan ruangan sebelumnya padat. Jadi, kalau mau pindah yang lebih longgar ruangannya harus bayar. Saya bayar Rp 2,5 juta, " ucapnya.

Keluarga tahanan lainnya, Sudirman mengatakan, mekanisme dan prosedur yang terjadi di Rutan yang beralamat di Jalan Sialang Bungkuk, Pekanbaru ini, sudah seperti disetting menjadi bisnis besar di balik penjara.

Belum lagi pelayanan tidak maksimal yang terjadi di dalam rutan. "Di dalam itu airnya kotor, anak saya sampai berkudis. Tapi, saat saya mau antarkan obat yang ukuran kecil supaya kudisnya sehat saja tidak boleh. Belum lagi makanannya," tuturnya.

Ia sadar anaknya bersalah, namun seharusnya tahanan ini dibina, bukan diperlakukan tidak manusiawi. Untuk itu, dia meminta kepada Kementerian Hukum dan HAM Riau tidak tinggal diam dengan persoalan yang terjadi di Rutan Klas IIB Pekanbaru ini.

Editor: Bobby Satia

Sumber: Kompas.com

  BacaJuga
  • Joni Boyok Jadi Tersangka Kasus Penghinaan Abdul Somad

    Senin, 08 Okt 2018 16:40

    Liputanriau.com, Pekanbaru - Direktorat Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Riau menetapkan warga Pekanbaru JB alias Joni Boyok, sebagai tersangka atas kasus penghinaan terhadap Ustad Abdul Somad. Pela

  • UAS Doakan Habib Rizieq di Monas

    Minggu, 30 Sep 2018 12:15

    Liputanriau.com, Jakarta - Pendakwah ustaz Abdul Somad (UAS) meneteskan air mata saat memimpin doa dalam acara "Doa untuk Keselamatan Bangsa" di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Sabtu (29/9).Dalam d

  • Pengakuan Ustaz Abdul Somad Penyebab Batal Ceramah

    Selasa, 11 Sep 2018 01:20

    Liputanriau.com, Jakarta - Ustaz Abdul Somad (UAS) sempat membatalkan ceramahnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur karena mengaku ada ancaman. Kini, UAS membongkar ancaman berupa gangguan yang menyeb

  • Ustaz Abdul Somad Mengaku Tersinggung Terkait Penghinaan Jony Boyok

    Senin, 10 Sep 2018 17:37

    Liputanriau.com, Pekanbaru - Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Riau telah meminta keterangan Ustaz Abdul Somad (UAS) terkait penghinaan yang dilakukan Jony Boyok. Pemeriksaan tidak dil

  • UAS Maafkan Penghinanya, Proses Hukum Tetap Berjalan

    Kamis, 06 Sep 2018 15:23

    Liputanriau.com, Pekanbaru - Tim kuasa hukum penceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) mengatakan pihaknya tetap akan melanjutkan proses hukum kasus dugaan penghinaan terhadap Abdul Somad oleh akun

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.