• Home
  • Hukrim
  • Keluarga Napi Beberkan Pungli di Rutan Pekanbaru dari Rp 20.000 Hingga Rp 7 Juta

Keluarga Napi Beberkan Pungli di Rutan Pekanbaru dari Rp 20.000 Hingga Rp 7 Juta

Senin, 08 Mei 2017 13:25
Dibaca: 114 kali
BAGIKAN:
TribunPekanbaru/Budi Rahmat
Personel Brimob melakukan pengamanan di gerbang sisi kanan Rumah Tahanan Sialang Bungkuk, Pekanbaru.

Liputanriau.com, Pekanbaru - Kaburnya 442 orang tahanan dari Rutan Klas IIB Sialang Bungkuk, Pekanbaru, Jumat (5/5/2017) lalu, membuka penyimpangan yang terjadi di dalam rutan. Satu di antaranya dugaan pungutan liar (pungli).

Haji Usman, orangtua salah satu tahanan membeberkan praktek-praktek pungli yang ia ketahui. Misalnya untuk memindahan anaknya ke ruang tahanan lebih layak ia harus merogoh kocek hingga Rp 7 juta.

Usman menceritakan, ruang tahanan anaknya penuh sesak. Seharusnya, ruangan tersebut dihuni belasan orang namun didiami 80 orang.

"Supaya anak saya bisa pindah ruangan saya harus bayar Rp 7 juta. Kalau tidak bayar kasihan anak saya yang diperlakukan tidak manusiawi," kata Usman, kepada Tribun.

Selain itu, pembesuk harus membayar Rp 50.000 jika tidak ingin mengantre saat membesuk. Dengan membayar sejumlah uang itupun waktu kunjungan pun bisa lebih lama.

Namun, sambung Usman, uang tersebut tidak diberikan langsung kepada petugas melainkan kepada Tamping (Napi yang membantu petugas rutan).

"Kalau mau membesuk itukan kita harus mengantre, ya kalau mau cepat harus bayar. Waktu besuk juga dibatasi dan kalau mau lama bayar lagi. Bervariasi ada yang Rp 20.000 hingga Rp 50.000.

Keluarga tahanan lainnya, Erlinda mengatakan, ia harus membayar Rp 2,5 juta supaya sang adik yang terjerat kasus pencurian pindah ke ruang tanahan yang lebih longgar.

"Kasihan ruangan sebelumnya padat. Jadi, kalau mau pindah yang lebih longgar ruangannya harus bayar. Saya bayar Rp 2,5 juta, " ucapnya.

Keluarga tahanan lainnya, Sudirman mengatakan, mekanisme dan prosedur yang terjadi di Rutan yang beralamat di Jalan Sialang Bungkuk, Pekanbaru ini, sudah seperti disetting menjadi bisnis besar di balik penjara.

Belum lagi pelayanan tidak maksimal yang terjadi di dalam rutan. "Di dalam itu airnya kotor, anak saya sampai berkudis. Tapi, saat saya mau antarkan obat yang ukuran kecil supaya kudisnya sehat saja tidak boleh. Belum lagi makanannya," tuturnya.

Ia sadar anaknya bersalah, namun seharusnya tahanan ini dibina, bukan diperlakukan tidak manusiawi. Untuk itu, dia meminta kepada Kementerian Hukum dan HAM Riau tidak tinggal diam dengan persoalan yang terjadi di Rutan Klas IIB Pekanbaru ini.

Editor: Bobby Satia

Sumber: Kompas.com

  BacaJuga
  • Pukul Pramugari, Suami Istri Diturunkan dari Pesawat

    Senin, 04 Sep 2017 16:48

    Liputanriau.com, Medan - Sepasang suami istri diturunkan dari pesawat Citilink dan batal terbang menggunakan maskapai tersebut, Senin (4/9). Mereka terlibat cekcok dan diduga memukul seorang pramugari

  • Polisi Korban Pemukulan Serda WS Dapat Penghargaan

    Sabtu, 12 Agu 2017 12:39

    Liputanriau.com, Pekanbaru - Kepolisian Resor Kota Pekanbaru memberikan penghargaan kepada Bripda Yoga Vernando atas kesabarannya menghadapi masalah dalam bertugas. Yoga merupakan polisi lalu lintas k

  • Sosok Oknum TNI yang Memukul dan Memaki Polantas di Pekanbaru

    Jumat, 11 Agu 2017 13:18

    Liputanriau.com, Pekanbaru - Terungkap sosok oknum anggota TNI Angkatan Darat (AD) yang menghajar polisi lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, depan Ramayana, Pekanbaru, Provinsi Riau, Kamis (10/8/2

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.