• Home
  • Hukrim
  • Tuntut Kapolres Kampar Dicopot, Warga Koto Aman Datangi Polda Riau

Tuntut Kapolres Kampar Dicopot, Warga Koto Aman Datangi Polda Riau

Oleh: Tamam
Rabu, 12 Sep 2018 18:02
Dibaca: 152 kali
BAGIKAN:


PEKANBARU - Diduga memihak kepada PT SBAL yang diketahui merampas tanah masyarakat Koto Aman Kampar seluas 1500 hektare lebih, massa tuntut Kapolres Kampar, AKBP Andri Ananta dicopot. Hal ini disampaikan lewat aksi unjuk rasa yang digelar di depan Mapolda Riau, Rabu (12/09/18). 

Dapson El selaku Koordinator Aksi mengatakan aksi ini bertujuan untuk meminta pertanggung jawaban Polda Riau untuk mengsusut dan memecat Kapolres kampar AKBP Andri Ananta yang diduga berpihak kepada PT Sekar Bumi Alam Lestari (SBAL). 

"Perkara perampasan tanah masyarakat oleh PT SBAL seluas 1500 hentare lebih sebelumnya sudah ada kesepakatan antara pihak perusahan dan masyarakat. Dimana PT SBAL sebelumnya mengakui adanya tanah masyarakat tersebut dan akan mengembalikannya. Namun, saat kita tuntut justru PT SBAL menolak mengembalikan tanah tersebut. Cara yang digunakan juga sangat keji bagi kita, yakni memecah belah masyarakat dan memanggil dua orang warga mewakili masyarakat Koto Aman melalui Polres Kampar sebagai lembaga hukum" katanya.

Lanjutnya, bukan terselesaikan dan mendapat jawaban dalam hitungan hari dua perwakilan yang yakni Irfan Caniago dan Akmal justru ditetapkan sebagai tersangka dan hari ini tengah menjalani BAP di Polres Kampar.

"Selama 6 hari 6 malam kita menuntut keadalian, tidak sedikit pun kita melakukan pengerusakan atau kekerasan. Jadi kita menduga tuntutan kepada dua rekan ini adalah tuntutan bohong," bebernya.

Lanjut, Dapson dalam menyelesaikan perkara ini, sebelumnya Pemkab Kampar sudah empat kali melakukan pemanggulan kepada PT SBAL untuk berdialog bersama warga. Namun tak sekalipun pihak perusahaan tersebut hadir.

"Luas lahan kita perkirakan lebih dari 1500 hektare yang sudah dikuasai oleh PT SBAL puluhan tahun lalu untuk perkebunan sawit. Bahkan saat ini tanaman sawit sudah hampir replanting," terangnya.

Sebelumnya, pihak perusahaan sempat melarang masyarakat pada saat itu menanam sawit dan menggunakan lahan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS). Namun, kenyataannya setelah tim Pemkab Kampar  melakukan pengecekan dan mengambil titik simpul lokasi yang bermasalah beberapa waktu lalu, dijumpai seluruh dinding sungai ditanami sawit oleh PT SBAL tersebut.

"Kita tak tau bukti apalagi yang diperlukan pemerintah untuk mengusut kasus ini. Kita tegaskan jika Kapolres Kampar masih menahan dua warga kami dengan tuduhan palsu, maka kita akan perjuangkan hingga ke presiden," tegasnya.

Selain meminta Kapolres Kampar dicopot dan tanah seluas 1500 hektare lebih dikembalikan ke masyarakat, dalam aksinya massa juga menuntut pengusiran antek asing di wilayah desa Koto Aman tersebut. (Arl)
  BacaJuga
  komentar Pembaca
Copyright © 2018 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.