Islamofobia, Lima Kata Ini Selalu Disalahgunakan

Senin, 11 Sep 2017 20:43
Dibaca: 57 kali
BAGIKAN:
Aksi kelompok ultra-kanan, Liga Pertahanan Inggris dalam demonstrasi anti-Islam

Liputanriau.com - Diskriminasi terhadap umat Islam di Inggris telah memuncak pada 2017. Sebanyak 1.260 peristiwa terkait kejahatan kebencian, tercatat dari awal tahun hingga Maret 2017.

Dilansir dari The Independent kejahatan kebencian ini selalu dikaitkan dengan Islam. Lima kata ini selalu disalahgunakan oleh pakar terorisme, sehingga menciptakan budaya ketakutan, terutama mereka yang merasa Islamopobia diantaranya Islam.

Ketika banyak orang mendengar kata Islam atau muslim, di pikiran mereka muncul gambar pria berjenggot coklat, wanita mengenakan burqa, ISIS, Al Qaida, dan stereotip lainnya. Pencarian gambar melalui google membenarkan prasangka ini.

Padahal, di dunia ini terdapat 1,3 miliar Muslim. Mereka seluruhnya tidak terlihat sama dan memiliki pandangan yang sama.

Islam merupakan kata dari bahasa arab yang berarti kedamaian. Bagi umat Islam, Islam bukan sekedar ideologi politik, tetapi cara hidup sesuai dengan rukun islam yakni meyakini Allah dengan syahadat, shalat lima waktu, berpuasa, zakat dan beribadah haji.

Muslim bukanlah entitas yang homogen. Mereka memiliki bermacam kelompok, termasuk filosofi yang berbeda dengan tingkat ketaatan yang berbeda.

Banyak muslim percaya Nabi Muhammad adalah keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Islam. Islam memiliki banyak kesamaan dengan tradisi Yahudi dan Kristen. Islam seharusnya tidak dipandang terpisah, karena Islam merupakan bagian dari masyarakat sebagai agama.

Burqa

Busana sederhana wanita Muslim telah lama dicurigai. Burqa, pakaian panjang dan longgar yang menutupi seluruh tubuh dari kepala hingga kaki.

Mereka yang pobia terhadap Islam menganggap pakaian ini sebagai simbol penindasan wanita. Negara di Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman dan Australia telah mendiskusikan untuk larangan penggunaan burqa. Mereka mencari alasan dan memperkuatnya agar pakaian ini menjadi sesuatu yang ditakuti. Pelarangan terhadap burqa diklaim karena masalah keamanan dan menghambat integrasi.

Jihad

Bulan lalu Linda Sarsour, seorang aktivis Muslim Amerika, menyampaikan sebuah pidato kontroversial kepada audiens yang didominasi Muslim dan mengutip sebuah hadist dari nabi Muhammad: "Sebuah kata kebenaran di depan seorang penguasa tiran atau pemimpin. Itu adalah bentuk jihad terbaik."

Sarsour menjelaskan, bahwa ini berarti membela orang-orang yang tertindas oleh pemimpin mereka secara lokal dan global, termasuk dari kaum Islamofobia, fasis dan supremasi kulit putih.

Tempat di dalam Quran adalah kata-kata "perang suci" yang disamakan dengan Jihad, yang sebenarnya merupakan perjuangan internal seseorang untuk menjalani kehidupan yang baik. Saat ini, sebagian besar umat Islam menggunakannya untuk menggambarkan kebiasaan terbangun untuk sholat subuh atau menjauhi kebiasaan buruk. Ini tidak mewakili ekstremisme atau kekerasan terhadap mayoritas Muslim.

Allahu Akbar

Tidak tahu sejak kapan asalanya kedua kata ini telah menjadi sinonim dengan ekstremisme, meskipun arti sebenarnya keduanya berbeda. Ungkapan itu secara harfiah berarti Allah Maha Besar, dan digunakan oleh umat Islam saat shalat.

Baru tahun lalu, polisi Greater Manchester meminta maaf karena menggunakan ungkapan itu dalam simulasi serangan teror sebagai bagian dari latihan, karena memperkuat stereotip, memprovokasi Islamofobia. Berbicara kepada Al Jazeera, Miqdaad Versi, asisten sekretaris jenderal di Dewan Muslim Inggris, mengatakan bahwa "dengan menggunakan kata ini dalam pelatihan pencegahan teror, umat Islam di seluruh dunia dikaitkan dengan teroris".

Ungkapan tersebut telah dikooptasi oleh teroris dan ekstrimis sayap kanan saat perang dan dilepaskan dari makna sebenarnya.

Terorisme

Istilah ini digunakan untuk kejahatan yang dihubungkan dengan tindakan atas nama keyakinan Islam. Istilah kekinian bagi ekstrimis sayap kanan yang melakukan tindakan radikal disebut sebagai terorisme domestik Islam. Banyak kulit hitam yang melakukan tindakan radikal tetapi tidak disebut tindakan terorisme. Padahal penyebutan ini menyebabkan sebuah ketakutan bagi masyarakat yang fanatik.

Editor: Bobby Satia

Sumber: Republika.co.id

  BacaJuga
  • Ribuan Jamaah Hadir dalam Tabligh Akbar Ustadz Syafiq Basalamah di Masjid Imam Syafi'i Pekanbaru

    Minggu, 24 Sep 2017 06:17

    PEKANBARU, LIPUTANRIAU.COM - Meskipun cuaca Kota Pekanbaru sore hingga malam, Sabtu (23/9/2017) gerimis dan mendung, namun semangat para penerima ilmu tetap tinggi, ribuan jamaah memadati Masjid Imam

  • Raja Salman Bantu 15 Juta Dolar AS untuk Pengungsi Rohingya

    Rabu, 20 Sep 2017 15:35

    Liputanriau.com - Tragedi yang menimpa Muslim di Rohingya, Myanmar mengundang keprihatinan Raja Arab Saudi Salman Bin Abdul Aziz Al-Saud. Bahkan, Raja Salman telah memerintahkan pembayaran bantuan sen

  • Jokowi Melepas 34 Ton Bantuan Kemanusiaan untuk Rohingya

    Rabu, 13 Sep 2017 14:47

    Liputanriau.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo, Rabu (13/9/2017) pagi, melepas 34 ton bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya di perbatasan Myanmar-Bangladesh.Pelepasan bantuan kemanusiaan itu di

  • Dua Orang Pengungsi Rohingnya Cedera Terkena Ranjau Myanmar

    Selasa, 12 Sep 2017 21:27

    Liputanriau.com, Myanmar - Ranjau darat yang ditanam militer Myanmar di perbatasan Bangladesh mulai memakan korban. Menurut laporan Telegraph, Senin, 11 September 2017, ranjau tersebut menghantam dua

  • Sarawak Tutup Pintu untuk Rohingya

    Senin, 11 Sep 2017 20:50

    Liputanriau.com, Sarawak - Sarawak, negara bagian Malaysia akan menolak memberikan rumah atau tempat tinggal bagi pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar."Kami sepenuhnya menolaknya. Bagai

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.