Konflik Rohingya dan Kepentingan Bisnis Migas Cina

Oleh: Tamam
Minggu, 03 Sep 2017 19:56
Dibaca: 105 kali
BAGIKAN:
Pasukan Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB) memerintah seorang gadis Rohingya tidak memasuki wilayah Bangladesh.
Liputanriau.com - Kontributor Forbes, Anders Corr, yang sempat bekerja sebagai intelijen militer selama lima tahun ini dalam artikelnya menuliskan keterkaitan antara konflik yang terjadi di Rakhine, Myanmar, dengan kepentingan bisnis Cina. 

Dalam paparan awal, Anders menjelaskan tentang kondisi para Muslim Rohingya yang mendapat serangan militer dari tentara Myanmar. Tak hanya serangan militer tapi juga pemerkosaan dan pembunuhan. Akibatnya, 43 ribu muslim Rohingya melarikan diri dari Rakhine. Anders mengakui memang ada pelanggaran HAM terhadap muslim Rohingya oleh militer Myanmar. Namun, tekanan diplomatik terhadap Myanmar lemah sehingga tragedi kemanusiaan itu masih terjadi.

Menurut Anders, Cina adalah sekutu terdekat Myanmar. Negeri Tirai Bambu ini punya pengaruh besar dan kegiatan bisnis yang luar biasa di negara bagian Rakhine, Myanmar. Cina punya tanggung jawab yang besar atas persetujuan internasional secara diam-diam terhadap pelanggaran HAM Myanmar. "Cina seharusnya mengubah sikap Myanmar terhadap Rohingya tapi belum dilakukan," tulis Anders dalam artikelnya.

Dalam artikel itu, Anders mengutip perkataan seorang diplomat Asia yang ia wawancarai untuk kepentingan penulisan artikel tersebut. Diplomat itu mengatakan Cina memang secara diam-diam menyetujui adanya pelanggaran HAM di Rakhine, sehingga tidak memberikan sinyal untuk memengaruhi apa yang dilakukan Myanmar terhadap muslim Rohingya. Hal ini dilakukan Cina sekaligus untuk menolak HAM Amerika Serikat yang bisa memengaruhi negara-negara Asia secara signifikan.

Lagi pula, sebagian besar Cina, tulis Anders, menentang gagasan tentang HAM universal. Di Myanmar sendiri, Cina punya kepentingan bisnis yang strategis. Bagaimana tidak, sejumlah perusahaan migas Cina saat ini sedang berkegiatan di wilayah lepas pantai (offshore) Negara Bagian Rakhine. Perusahaan tersebut adalah China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) dan PetroChina, serta China National Petroleum Corporation (CNPC).

"Diamnya Cina kemungkinan karena disebabkan adanya kepentingan bisnis di Rakhine, diamnya mereka secara diplomatis berarti mendukung Myanmar dalam isu Rohingya," tulis Anders.

Sumber Anders itu, mengatakan Cina dan sebagian besar negara ASEAN telah mengabaikan krisis Rohingya. Dan secara implisit, negara-negara itu mendukung Myanmar secara tidak langsung. Negara-negara tersebut tidak ingin memberikan sinyal yang menunjukan kesan ikut campur pada masalah HAM di Myanmar. Cina juga menilai, tulis Anders, menaikkan isu pelanggaran HAM Myanmar justru akan meninggikan pengaruh Amerika di Asia.

Dalam penjelasan Anders, dipaparkan bahwa Cina dan sebagian besar negara ASEAN sebetulnya juga mempunyai kelompok minoritas tersendiri yang mendapat diskriminasi atau bahkan lebih buruk lagi. Anders, mengutip omongan dari sumber itu, menuliskan kelompok minoritas yang diperlakukan secara tak adil di Cina, berada di Xinjiang dan Tibet. Karena itu, pemberian preseden terhadap isu Rohingya ini dihindari untuk melidungi kebijakan Cina di dua wilayah tersebut.

"Sedangkan untuk orang-orang keturunan Tionghoa di Kachin dan Shan (di Myanmar), Cina mungkin dengan tenang mengatakan ke Myanmar bahwa mereka ingin orang-orang keturunan Tionghoa diperlakukan dengan baik. Pada saat bersamaan, Cina punya cara pendekatan yang berbeda sama sekali terhadap Rohingya," tulis Anders.
Editor: Bobby Satia

Sumber: Republika.co.id

  BacaJuga
  • Ribuan Jamaah Hadir dalam Tabligh Akbar Ustadz Syafiq Basalamah di Masjid Imam Syafi'i Pekanbaru

    Minggu, 24 Sep 2017 06:17

    PEKANBARU, LIPUTANRIAU.COM - Meskipun cuaca Kota Pekanbaru sore hingga malam, Sabtu (23/9/2017) gerimis dan mendung, namun semangat para penerima ilmu tetap tinggi, ribuan jamaah memadati Masjid Imam

  • Raja Salman Bantu 15 Juta Dolar AS untuk Pengungsi Rohingya

    Rabu, 20 Sep 2017 15:35

    Liputanriau.com - Tragedi yang menimpa Muslim di Rohingya, Myanmar mengundang keprihatinan Raja Arab Saudi Salman Bin Abdul Aziz Al-Saud. Bahkan, Raja Salman telah memerintahkan pembayaran bantuan sen

  • Jokowi Melepas 34 Ton Bantuan Kemanusiaan untuk Rohingya

    Rabu, 13 Sep 2017 14:47

    Liputanriau.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo, Rabu (13/9/2017) pagi, melepas 34 ton bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya di perbatasan Myanmar-Bangladesh.Pelepasan bantuan kemanusiaan itu di

  • Dua Orang Pengungsi Rohingnya Cedera Terkena Ranjau Myanmar

    Selasa, 12 Sep 2017 21:27

    Liputanriau.com, Myanmar - Ranjau darat yang ditanam militer Myanmar di perbatasan Bangladesh mulai memakan korban. Menurut laporan Telegraph, Senin, 11 September 2017, ranjau tersebut menghantam dua

  • Sarawak Tutup Pintu untuk Rohingya

    Senin, 11 Sep 2017 20:50

    Liputanriau.com, Sarawak - Sarawak, negara bagian Malaysia akan menolak memberikan rumah atau tempat tinggal bagi pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar."Kami sepenuhnya menolaknya. Bagai

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.