• Home
  • Mancanegara
  • Putri Jepang Rela Lepaskan Mahkota Demi Cinta pada Pria Biasa

Putri Jepang Rela Lepaskan Mahkota Demi Cinta pada Pria Biasa

Kamis, 18 Mei 2017 13:33
Dibaca: 135 kali
BAGIKAN:

Liputanriau.com, Jepang - Atas nama cinta, Putri Mako (25) dari Jepang rela melepas gelar kebangsawanannya. "Pangeran" pilihannya berasal dari kalangan rakyat jelata.

Putri Mako merupakan anak perempuan dari Pangeran Akishino dan Putri Kawashima Kiko. Ayahnya merupakan anak kedua dari Kaisar Akihito.

Seperti dilansir CNN, Rabu (17/5/2017) pihak Rumah Tangga Kekaisaran menjelaskan, bahwa Putri Mako, cucu perempuan pertama Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko akan bertunangan dengan Kei Komuro (25).

Pria itu dikabarkan bekerja di firma hukum dan seorang mahasiswa pascasarjana yang pernah berperan sebagai "Prince of the Sea" dalam sebuah iklan pariwisata.

Pasangan ini bertemu lima tahun lalu saat keduanya menempuh pendidikan di International Christian University di Tokyo. Demikian laporan radio Jepang NHK.

Saat masih duduk di bangku kuliah itulah, Kei mendapat peran dalam iklan pariwisata pantai untuk kota Fujisawa. Kota ini terletak di sebelah selatan Tokyo.

Hukum kekaisaran Jepang selama berabad-abad mengharuskan seorang putri meninggalkan gelar kebangsawanannya jika ia memilih menikah dengan orang biasa. Sosok yang terakhir melakukannya adalah Putri Sayako, bibi dari Putri Mako.

Sayako adalah anak perempuan satu-satunya Akihito dan Michiko. Ia meninggalkan istana setelah menikah dengan Yoshiki Kuroda, seorang perencana tata kota pada tahun 2005.

Pertunangan Putri Mako belum resmi hingga terjadi pertukaran hadiah atau seserahan antara dua pihak. Meski demikian, kabar ini menghidupkan kembali kekhawatiran tentang jumlah anggota keluarga kekaisaran yang terus menyusut.

Saat ini kekaisaran Jepang memiliki 19 anggota keluarga, dan 14 di antaranya adalah perempuan.

Hukum kekaisaran hanya memungkinkan takhta diwariskan kepada anak laki-laki, sementara itu hanya ada tiga putra yang tersisa. Pertama adalah Putra Mahkota Pangeran Naruhito, adik laki-lakinya Akishino, dan seorang lagi putra Akishino, Pangeran Hisahito.

Selain Putri Mako, ada enam putri lain yang saat ini belum menikah -- mereka juga akan kehilangan gelar kebangsawanan jika memilih menikahi orang biasa. Kemungkinan tersebut memicu kekhawatiran keluarga kekaisaran tidak memiliki cukup anggota untuk terus menjalankan tugas-tugas publik.

Musim panas lalu, Kaisar Akihito (83) menyuarakan kekhawatiran bahwa usia lanjutnya mungkin akan memengaruhi kemampuannya untuk memerintah.

"Ketika saya menganggap tingkat kebugaran saya berangsur-angsur menurun, saya khawatir akan sulit bagi saya untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai simbol negara...," ujar Akihito kala itu.

Tak lama, Rumah Tangga Kekaisaran mengumumkan bahwa Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko akan mengurangi penampilan publik mereka.

Hukum kekaisaran mewajibkan seorang kaisar melayani negara sepanjang hidupnya. Namun pernyataan Akihito telah memicu polemik agar parlemen mengizinkan kaisar mundur jika situasi mengharuskannya.

Sebuah rancangan undang-undang terkait pengabdian kaisar akan diajukan, baik ke majelis rendah maupun majelis tinggi dalam pekan ini.

Pada hari Rabu waktu Jepang, media memusatkan perhatian pada pria yang berhasil mencuri hati Putri Mako. Para jurnalis berkumpul di depan firma hukum tempat Kei Komuro bekerja.

Pria itu menolak menjawab berbagai pertanyaan tentang pertunangannya dengan Putri Mako. Dia hanya mengatakan, "Saya akan membicarakannya jika waktunya tiba."

Menurut media lokal, rakyat Jepang antusias mengenal sosok Kei. Reaksi mereka umumnya positif, namun ada pula yang mengaitkan perkawinan yang kelak akan terjadi antara Putri Mako dan Kei dengan kelangsungan kekaisaran Negeri Sakura tersebut.

"Menurut saya, seorang wanita anggota keluarga kekaisaran harus tetap diizinkan tinggal (menyandang gelar kebangsawanan). Saya rasa garis keturunan laki-laki akan tetap dijaga oleh putra mahkota dan saudaranya, namun seharusnya tidak masalah jika kelak suatu saat ada kaisar perempuan," kata seorang warga, Meiko Hirayama (44).

Adapula warga yang bersikeras menjaga hukum kekaisaran dengan berpendapat kaisar haruslah seorang laki-laki.

"Ini adalah sebuah tradisi yang terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun. Jika kita ikuti tren global, siapapun bisa jadi kaisar. Kita harus hormati tradisi," ujar Katsuiji Tsunoda (71).

Editor: Bobby Satia

Sumber: Liputan6.com

  BacaJuga
  • 450 ribu Warga Catalonia Unjuk Rasa, Menentang Spanyol

    Minggu, 22 Okt 2017 18:18

    Liputanriau.com, Spanyol - Lebih dari 450 ribu warga Catalonia pendukung kemerdekaan turun ke jalan di Barcelona, Spanyol, dipimpin oleh Presiden Carles Puigdemont, Sabtu, 21 Oktober 2017.Mereka serem

  • Arti, Makna & Hikmah Kemerdekaan RI Menurut Islam

    Kamis, 17 Agu 2017 15:08

    Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada tanggal 17 Agustus 1945 memiliki arti, makna dan hikmah bila ditarik dalam kajian studi Islam.Menurut Islam, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah bebas untuk b

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.