• Home
  • Nasional
  • Jaksa Agung Tegaskan Tolak Gabung Densus Tipikor

Jaksa Agung Tegaskan Tolak Gabung Densus Tipikor

Selasa, 17 Okt 2017 13:24
Dibaca: 86 kali
BAGIKAN:
Jaksa Agung M Prasetyo

Liputanriau.com, Jakarta - Jaksa Agung M Prasetyo menegaskan korps Adhyaksa sudah memiliki satuan khusus yang menangani kasus korupsi.

Untuk itu dirinya menilai, Kejaksaan tidak perlu bergabung dalam satu atap bersama Datasemen Khusus Tindak Pidana Korupsi (Densus Tipikor).

"Rasanya enggak perlu, sementara saya katakan itu. Yang pasti, kita sudah punya satgasus sendiri dan sudah lama," kata Prasetyo dalam rapat gabungan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (16/10/2017).

Prasetyo memastikan proses pelimpahan berkas perkara korupsi dari Polri akan berjalan lama karena Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak bergabung ke Densus Tipikor.

Menurutnya, wajar jika Polri harus bolak-balik melengkapi berkas perkara jika syarat formil dan materil belum lengkap.

"Sekarang gini, hasil kerja penyidik kan dinilai oleh JPU, jangan khawatir ada kesan bolak-balik. Karena nantinya hasil kerja penyidik itu yang mempertanggungjawabkan JPU," katanya.

Jaksa Agung menjelaskan, jika berkas perkara yang belum lengkap, merupakan bentuk pertanggung jawaban JPU di persidangan.

"Jadi yang dihadapi bukan hanya terdakwa dan pengacara, tapi juga hakim. Hakim, terdakwa dan pengacaranya. Makannya berkas perkara harus betul-betul sempurna," katanya.

Prasetyo hanya berharap kehadiran Densus Tipikor tidak membuat kewenangan pemberantasan korupsi penegak hukum lain, seperti KPK dan Kejaksaan menjadi tumpang tindih.

Dirinya mengingatkan agar Densus tidak hanya melakukan penindakan tapi juga preventif.

"Kita ingin justru kalau pun ada densus, apapun sebutannya, semakin meningkatkan intensitas pemberantasan korupsi dan pencegahan korupsi. Kejaksaan punya konsep juga," katanya.

Prasetyo menambahkan, perlu ada batasan-batasan kinerja dari Densus Tipikor agar tidak terkesan mengambil alih tugas pemberantasan korupsi dari KPK dan Kejaksaan.

"Tenang nanti ada batasan-batasan. Kalau sesuai undang-undang KPK itu menangani kasus yang 1 miliar ke atas seperti itu. Nanti kita akan rumuskan lagi," katanya.

Sebelumnya Kapolri Jenderal Tito Karnavian menawarkan adanya dua metode kerja Detasemen Khusus Tindak Pidana Korupsi. Dua metode ini diharapkan dapat membuat kerja pemberantasan korupsi efektif dan efisien.

"Pertama, dibentuk satu atap dengan Jaksa Penuntut Umum sehingga kepemimpinannya bukan dari Polri namun kami usulkan satu perwira tinggi bintang dua Kepolisian, satu dari Kejaksaan, dan satu dari Badan Pemeriksa Keuangan," kata Tito dalam Rapat Kerja Gabungan di Komisi III DPR, Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (16/10/2017).

Menurut Tito metode pertama ini memiliki kekuatan di pimpinan bukan subordinat namun kolektif kolegial. Tito meyakini dengan metode ini pemberantasan korupsi akan sulit diintervensi.

Sementara metode kedua menurut Tito, tidak perlu satu atap antara Polri dengan Kejaksaan namun seperti Detasemen Khusus 88 Anti-teror dimana ada Satgas Penuntutan dari Kejaksaaan untuk menangani kasusnya.

Editor: Bobby Satia

Sumber: Tribunnews.com

  BacaJuga
  • Fredrich Yunadi Klaim Sudah Laporkan Pimpinan KPK ke Bareskrim

    Rabu, 17 Jan 2018 20:06

    Liputanriau.com, Jakarta - Mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi, mengaku sudah melaporkan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Basaria Panjaitan ke Bareskrim Polri. Sebelumnya, Fr

  • Setya Novanto Nilai Tepat Penunjukan Bambang Soesatyo Jadi Ketua DPR RI

    Senin, 15 Jan 2018 13:16

    Liputanriau.com, Jakarta - Setya Novanto mendukung sikap Partai Golkar yang menunjuk Bambang Soesatyo alias Bamsoet sebagai ketua DPR RI menggantikan dirinya.Menurut Setya Novanto, sudah saatnya Bamba

  • Alasan Setya Novanto Masih Pikirkan Opsi Justice Collaborator

    Jumat, 05 Jan 2018 17:19

    Liputanriau.com, Jakarta - Pengacara Setya Novanto, Maqdir Ismail mengatakan masih mempertimbangkan opsi untuk mengajukan kliennya sebagai justice collaborator dalam mengungkap kasus korupsi e-KT

  • Setya Novanto Sambangi KPK untuk Klarifikasi Hari Ini

    Rabu, 03 Jan 2018 15:39

    Liputanriau.com, Jakarta - Terdakwa dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) Setya Novanto menyambangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi hari ini, Rabu, 3 Januari 2018. Saat

  • Setya Novanto, Kasus Hukum, dan Kisahnya di Panggung Politik

    Minggu, 24 Des 2017 17:56

    Liputanriau.com - Setya Novanto, politisi kawakan asal Partai Golkar, terus menjadi sorotan. Mulai dari berbagai kasus hukum yang menyeret namanya, hingga kelihaiannya dalam berpolitik. Berkiprah di S

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.