• Home
  • Nasional
  • Kapolri: 17 Kasus Aksi Teror Terkait Aplikasi Telegram

Kapolri: 17 Kasus Aksi Teror Terkait Aplikasi Telegram

Senin, 17 Jul 2017 15:31
Dibaca: 59 kali
BAGIKAN:
Tribunnews
Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian

Liputanriau.com, Jakarta - Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengungkapkan adanya 17 kasus terkait aplikasi Telegram. Temuan tersebut berdasarkan Detasemen Khusus 88 Antiteror.

Sebanyak 17 kasus tersebut terjadi selama dua tahun terakhir yang diantaranya peristiwa Bom Thamrin. "Sudah tahu yang namanya telepon bisa disadap, HP dan SMS, sehingga akhirnya mereka bisa mencari saluran komunikasi yang aman buat mereka," kata Tito di Gedung DPR, Jakarta, Senin (17/7/2017).

Selain itu, Tito juga menjelaskan adanya fenomena lone wolf atau teroris yang tidak terstruktur. Mereka bergerak secara sendiri menjadi radikal melalui penggunaan informasi teknologi. Tito mengungkapkan perubahan latihan anggota teroris.

"Latihan dulu dr Azahari bin husin mengajarkan murid-murid membuat bom langsung sekarang tidak. Langsung online, chat, nanti campur ini, campur ini, survei langsung. Nanti disahring nah telegram salah satu favorit mereka sekarang ini," kata Jenderal Bintang Empat itu.

Tito menuturkan teroris dapat membuat super grup melalui aplikasi Telegram. Grup tersebut bisa beranggotakan 10.000 anggota privat lalu masuk kelompok lain tanpa diketahui administrasinya. "Berbeda dengan WA group yang ada adminnya," kata Tito.

Tito menjelaskan aplikasi Telegram memiliki aplikasi end to end encription sehingga tidak bisa disadap. Kemudian terdapat akun tersembunyi sehingga nomor tidak diketahui.

"Tapi, dia bisa cukup dengan menggnakan user name, saling kontak chat to chat hanya dengan user jadi dia tidak ketahuan. sulit dilacak," kata Mantan Kapolda Metro Jaya itu.

Meskipun, Tito menuturkan teknologi tersebut terdapat sisi positif sehingga bermanfaat untuk pembicaraan rahasia yang dianggap privasi. Namun, sisi negatifnya bila dimanfaatkan ditangan yang salah sehinhha berbahaya. Sebab, kepolisian tidak dapat melacak kelompok tersebut.

"Nanti meledak dimana-mana, termasuk kasus kasuh yang di Masjid Falatehan Blok M kemudian yang Bandung, kasus yang menyerang Polda Sumut itu menggunakan komunikasi ini dan bahkan yang ngajarin cara membuat bom dan pembahan doktrin radikal yang nerima pun enggak tahu siapa dia," kata Tito.

Editor: Bobby Satia

Sumber: Tribunnews.com

  BacaJuga
  • KPK Periksa Andi Narogong untuk Tersangka Setya Novanto

    Kamis, 20 Jul 2017 13:22

    Liputanriau.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis, akan memeriksa Andi Agustinus alias Andi Narogong sebagai saksi dalam penyidikan korupsi pengadaan kartu tanda penduduk berbasis n

  • Setya Novanto Penuhi Panggilan KPK

    Jumat, 14 Jul 2017 15:33

    Liputanriau.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa Ketua DPR RI Setya Novanto dalam penyidikan tindak pidana korupsi pengadaan kartu tanda penduduk berbasis nomor induk kependuduk

  • Irman Akui Ada Aliran Dana e-KTP ke eks Mendagri

    Rabu, 12 Jul 2017 15:53

    Liputanriau.com, Jakarta - Terdakwa kasus korupsi e-KTP, Irman menjelaskan aliran duit proyek yang selama ini ia terima. Hal ini diungkapkan dalam sidang dengan agenda pledoi, lantaran sebelumnya 

  • Ketua Pansus Hak Angket akan Diperiksa KPK Hari Ini

    Selasa, 11 Jul 2017 14:08

    Liputanriau.com, Jakarta - Hari ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa dua orang saksi terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi KTP-elektronik. Dua saksi yang dijadwalkan ulang ialah anggo

  • KPK Periksa Dua Mantan Pimpinan Komisi II

    Senin, 10 Jul 2017 14:42

    Liputanriau.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa dua mantan pimpinan Komisi II DPR RI dalam penyidikan tindak pidana korupsi pengadaan paket penerapan Kartu Tanda Penduduk berba

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2017 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.