• Home
  • Nasional
  • Kasus Pelecehan Seks, DPR Minta National Hospital Dihukum

Kasus Pelecehan Seks, DPR Minta National Hospital Dihukum

Minggu, 28 Jan 2018 14:03
Dibaca: 121 kali
BAGIKAN:

Liputanriau.com, Jakarta - Anggota Komisi Kesehatan Dewan Perwakilan Rakyat, Irma Suryani, meminta Kementerian Kesehatan memberikan sanksi kepada Rumah Sakit National Hospital sehubungan dengan adanya dugaan seksual terhadap pasien. "Kasus ini harus kita selesaikan. Pelakunya harus dipidanakan, rumah sakit juga diberi sanksi oleh Kementerian Kesehatan," kata Irma dalam diskusi di Gado-Gado Boplo, Jakarta, Sabtu, 27 Januari 2018.

Irma menilai, standar operasi pelayanan rumah sakit itu patut dipertanyakan dalam menyampaikan hak dan kewajiban pasien. Menurut dia, beberapa rumah sakit memiliki standar prosedur operasional yang bersifat parsial untuk menyampaikan hak dan kewajiban pasien, lantaran belum adanya standar pelayanan rumah sakit nasional.

Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya menetapkan perawat Rumah Sakit National Hospital, ZA sebagai tersangka pelecehan seksual terhadap pasien perempuan, W. Korban, 30 tahun, merasa dilecehkan saat berada di ruang pemulihan seusai menjalani operasi kandungan pada Selasa, 23 Januari 2018.

ZA ditetapkan sebagai tersangka setelah tim penyidik bersama pengawas internal dari Polrestabes Surabaya melakukan gelar perkara. Pria berusia 30 tahun itu pun kemudian ditahan. Dia akan menjalani masa penahanan selama 40 hari ke depan.

Pelaku industri kesehatan, Anthony Charles Sunarjo, mengatakan bahwa setiap rumah sakit wajib menyampaikan informasi jelas terkait hak pasien sebelum memulai perawatan. "Harus ada SOP yang jelas," kata Anthony dalam acara yang sama.

Dari kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi di National Hospital, komisioner Ombudsman Ahmad Suaedy menilai bahwa rumah sakit pada umumnya kurang memberikan hak-hak pasien untuk pengaduan dan pengelolaan pengaduan.

Ahmad meminta ada penegakan peraturan tentang pelayanan publik, khususnya pemberian informasi terhadap pasien. Ia juga mengimbau pada pihak rumah sakit untuk memperlakukan pasien secara manusiawi. "Misal begitu dia datang mendaftar, diberi informasi tentang prosedur, fasilitas, dan yang paling penting pengaduan," ujarnya.

Menurut Ahmad, pasien juga bisa mengadu jika menemukan gejala yang mencurigakan. Pasalnya, saat ini ada banyak wadah untuk menyalurkan pengaduan, misalnya melalui media sosial.

Editor: Bobby Satia

Sumber: Tempo

  BacaJuga
  • Fahri Hamzah Prediksi Ada Capres Baru Selain Jokowi dan Prabowo

    Selasa, 30 Jan 2018 23:32

    Liputanriau.com, Jakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah meyakini akan ada calon presiden baru di luar Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Calon itulah yang ia dukung dan akan menang di Pilpres 2019 mend

  • Ratusan Purnawirawan TNI-Polri Deklarasi Dukungan untuk Prabowo Jadi Capres

    Sabtu, 27 Jan 2018 17:08

    Liputanriau.com, Jember - Di Kabupaten Jember, Sabtu (27/1/2018), ratusan purnawirawan TNI dan Polri mendeklarasikan dukungan terhadap Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, sebagai calon presi

  • LSI: PDIP, Golkar dan Gerindra Partai Papan Atas Pilpres 2019

    Kamis, 25 Jan 2018 13:08

    Liputanriau.com, Jakarta - Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memperkirakan tiga partai akan memimpin Pemilihan Presiden 2019 (Pilpres). Tiga partai itu adalah Partai Demokrasi Indonesia Pe

  • Menanti Langkah Prabowo Subianto Menuju Pilpres 2019

    Sabtu, 30 Des 2017 15:37

    Liputanriau.com, Jakarta - Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) kemungkinan besar bakal kembali mengusung Prabowo Subianto di pemilihan presiden (Pilpres) 2019.Prabowo yang menjadi tokoh sentral d

  • Kriteria Gerindra untuk Cawapres Prabowo

    Rabu, 01 Nov 2017 18:26

    Liputanriau.com, Jakarta - Tahun politik sudah makin dekat. Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon mengungkapkan kriteria calon wakil presiden (cawapres) yang diinginkan Gerindra untuk mendampingi Prabow

  •   komentar Pembaca
    Copyright © 2018 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.