• Home
  • Opini
  • Benarkah Intoleransi "Dalang" Konflik Dibalik Kemajemukan Masyarakat Indonesia?

Benarkah Intoleransi "Dalang" Konflik Dibalik Kemajemukan Masyarakat Indonesia?

Oleh: Dhiana
Rabu, 28 Mar 2018 07:00
Dibaca: 213 kali
BAGIKAN:
Oleh H Marwan Yohanis

"Tidak ada tempat bagi mereka yang tidak mampu bertoleransi di negara kita, Indonesia. Apalagi dengan cara Kekerasan," kata Presiden Joko Widodo, mengutuk Penyerangan di Gereja St. Lidwina, Sleman, Yogyakarta. (Tempo, Hal 14, 25 Februari 2018).

Isu intoleransi muncul kepermukaan pasca tragedi penyerangan sejumlah tokoh agama di Indonesia. Isu tersebut senter dikabarkan sejumlah media massa, cetak maupun elektronik, sikap intoleransi dipandang sebagai "dalang" konflik ditengah majemuknya masyarakat Indonesia. 

Tentu ini menimbulkan keheranan, sebab dulunya Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi kehidupan. Toleransi telah menjadi ujung tombak pemersatu bangsa sejak zaman kemerdekaan, toleransi menjadi penggagas kehidupan yang rukun di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. 

Hal tersebut tak asing di mata dunia, dulunya mengenal Indonesia sebagai bangsa yang besar namun dapat menjaga kehidupan dinamis dalam bertoleransi. Perbedaan agama, suku, etnis bersatu dalam semboyan Bineka Tunggal Ika. 

Lalu kenapa kini, justru kata-kata intoleransi mencuat disandingkan dengan isu-isu agama. Kehidupan beragama, sebutan mayoritas dan minoritas dalam konteks agama saja dijadikan alasan tunggal dan tak mendasar sebagai pemicu untuk tak bertoleransi.  

"Apakah bertoleransi ditujukan hanya untuk kehidupan beragama saja? Toleransi ditujukan bagi mayoritas dan  minoritas saja?"
      
Bukankah, sejak Indonesia merdeka telah dibuktikan, Rakyat Indonesia mampu hidup dengan banyak suku, banyak bahasa, agama, hidup damai dan aman dalam satu atap. 

Namun sekarang kenapa terjadi baku hantam? Ada apa dan mengapa? Apakah pertanda nilai-nilai toleransi di Negara ini telah luntur? Ataukah kita yang tidak mau lagi bertoleransi dalam kehidupan? 

Yang harus diluruskan, implementasi dalam kehidupan bertoleransi tidak hanya menjadi sekat dalam hal keagamaan saja, namun harus menyentuh seluruh aspek lainnya. 

Lantas, apa yang seharusnya disoroti yang tak mampu bertoleransi? Menurut saya, toleransi di Indonesia mulai luntur  sejak perekonomian dikuasai oleh konglomerasi, korporasi, individu dan asing yang hanya segelintir orang. 

Tahun lalu, Oxfam International merilis ketimpangan kekayaan di Indonesia menjadi salah satu yang terburuk di dunia. Kekayaan empat orang Indonesia setara dengan 100 juta penduduk.

"Harta milik empat orang terkaya di Indonesia sama dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin, kata LSM Oxfam, mengacu ke Data Kekayaan Global (Global Wealth Databook).

 Jika sumber ekonomi tetap dikuasai segelintir orang yang serakah, toleransi sulit untuk dijaga. Beragama bertoleransi, ekonomi bertolerasi, tidak akan terjadi paradox.

"Jangan teriak toleran, sementara anda menimbun kekayaan. Jangan teriak toleran, jika disekitar masih banyak yang tidak makan." 


Meminjam puisi yang di bacakan oleh Mantan Panglima TNI, Jendral Gatot Nurmantyo: "Sangat subur tanahnya,  luas sawahnya,  tapi bukan kami punya. Lihatlah padi Menguning,  menghiasi bumi sekeliling,  desa yang kaya raya,  tapi bukan kami punya.  Lihatlah hidup di kota, Pasar Swalayan tertata, ramai pasarnya, Tapi bukan kami punya... dan seterusnya,"

Sebagai informasi, untuk di Provinsi Riau, berdasarkan data dari pemprov setempat, kawasan tersebut memiliki luas 10.793.271 hekatare, terdiri dari daratan yang membentang seluas 9.036.710 hektare dan kawasan perairan seluas 1.756.561 hektare. 

Faktanya, meski dihuni oleh lebih dari enam juta jiwa penduduk. Namun kekayaan Bumi Riau hanya dinikmati dan berpusat ditangan segelintir orang yang sangat kaya.

 
Pertambangan digali untuk kepentingan kapitalisme. Hutan dibabat, menimbulkan persoalan banjir yang melanda dan mengorbankan masyarakat.  Pantas disebut "Tanahmu tak bertepi, bersempadan dengan dapur kami. Uangmu tak terbilang,  kau simpan di negeri orang. Kau ambil semua hak kami,  karena Kau pemimpin kami.
  BacaJuga
  komentar Pembaca
Copyright © 2018 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.