• Home
  • Opini
  • HARAP-HARAP CEMAS PILKADA PEKANBARU 2017

HARAP-HARAP CEMAS PILKADA PEKANBARU 2017

Rabu, 28 Des 2016 09:03
Dibaca: 210 kali
BAGIKAN:

Liputanriau.com-Penetapan nomor urut empat pasangan calon Wali Kota dan Wakil Walikota Pekanbaru mengawali tahapan panjang yang berujung pada pemilihan kepala daerah atau PILKADA pada 15 Februari 2017. Empat pasangan itu iyalah Syahril-Said Zohrin yang maja melalui jalur independen dan mendapatkan nomor urut pertama, selanjutanya nomor urut dua yang juga maju melalui jalur perseorangan Nazar-Deviwarman. Pasangan petahana Firdaus-Ayat Cahyadi memperoleh nomor urut 3, dan terakhir pasangan Ramli Walid-Irvan Herman, yang merupakan anak mantan Wali Kota Pekanbaru mendapatkan nomor urut 4.

Pasangan Firdaus-Ayat diusung oleh partai PKS, Partai Demokrat, Partai Gerindra dan PBB, baik Firdaus maupun Ayat merupakan pasangan petahana. Pasangan petahana ini dinilai sudah punya pengalaman memimpin Pekanbaru selama hampir 1 periode. Pasangan Firdaus-Ayat  pun bisa mngklaim hasil kerja mereka di Ibukota Provinsi Riau ini. Akan tetapi tidak mudah untuk pasangan Firdaus-Ayat untuk memenangkan PILWAKOT akan datang. Tentu tidak mudah bagi Petahana untuk dapat duduk kembali sebagai walikota pekanbaru. Dampak dari kebijakan Walikota pekanbaru yang menginginkan ketertiban dan kenyamanan sarana dan prasaranan umum membuat Waikota Pekanbaru menjadi di benci oleh sebagian kalangan masyarakat khususnya adalah pedagang kaki lima. Pasalnya hampir setiap hari Satpol PP Kota Pekanbaru melakukan penertiban membuat para pedagang tidak betah dalam mencari nafkah.

Sedangkan pasangan Ramli-Irvan ini diusung oleh lima partai politik, yaitu Golongan Karya (Golkar), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem).  Pasangan Ramli Walid dan dr Irvan Herman mengusung konsep SMS (Siap Membangun Semua) bagi Kota Pekanbaru. Pengamat politik, Maxasi Indra menyebut pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru periode 2017-2022, Ramli Walid-Irvan Herman secara kekuatan politik tidak boleh dipandang sebelah mata. Jika dilihat dari sisi kedekatan aspek politik Ramli sangat pandai dalam memilih pasangan. Alasannya, Irvan yang dipilih berada pada posisi pasangan calon yang lahir dari hasil kreasi politik antara Rusli Zainal dan Herman Abdulllah. Keberadaan Ramli Wahid yang punya pengalaman panjang di dalam birokrasi pemerintah menjadi kelebihan tersendi bagi pasangan ini, Ramli Wahid juga mempunyai pengalaman memimpin daerah yaitu saat dirinya menjadi Bupati Rokan Hulu.

Selain itu karir politik Ramli selama ini terbilang bersih dan jauh dari isu korupsi. Apalagi, pengalaman Ramli di dunia birokrat tidak perlu diragukan lagi, meskipun karirnya tidak pernah di Kota Pekanbaru. Pamongnya Ramli tidak bisa disepelekan, begitu juga dengan Irvan, dokter sekaligus pengusahan yang baru menyelesaikan pendidikan Magisternya itu di Universitas Pasundan, adalah pasangan yang tepat bagi Ramli, persepsi publik secara positif yang lekat pada ayah kandungnya itu, Herman Abdullah akan bisa dikemas sedemikian rupa, sehingga efeknya akan berdampak pada Ramli-Irvan.

Selanjutanya ada Dr H Syahril SPd MM dan H Said Zohrin SH MH yang merupakan pasangan pertama kali yang  mendeklarasikan diri untuk maju sebagai bakal calon Walikota dan wakil walikota Pekanbaru 2017-2022. Sebagai calon pertama, sekaligus mampu memenuhi syarat yang diamanatkan undang-undang maju melalui jalur independen, yakni melebihi batas minimal 47.041 KTP berdasarkan aturan 7,5 persen dari Daftar Pemilih Tetap Pekanbaru terakhir yang berjumlah 627.212. Syahril adalah sosok pendidik, sudah cukup lama mendalami persoalan-persoalan pengembangan pendidikan. Sementara itu, Said Zohrin sebelumnya dikenal sebagai mantan Anggota DPRD kota Pekanbaru, saat ini aktif dalam organisasi laskar melayu, Bapak berdarah Rengat juga aktif dalam pengembangan kegiatan kemasyarakatan di Pekanbaru.

Terakhir ada Herman Nazar yang berpasangan dengan Deviwarman. Herman Nazar, pria kelahiran pekanbaru 23 Desember 1956 ini merupakan pria yang mempunyai banyak pengalaman di dalam kepemerintahan. Pada Usia 27 tahun dia telah berhasil menjadi kepala Dinas Kebersihan dan  Pertamanan Kota Pekanbaru, selain itu pria yang juga pernah menjabat sebagai subbag perkotaan, kabag hukum dan ortal, plt camat kota pekanbaru, sekretaris DPRD, Badan Pertimbangan Daerah, Kepala BLH juga dikenal sebagai pembisnis yang juga gemar berpolitik. Pasangannya Deviwarman dikenal sebagai sebagai seorang pendidik, ia juga dikenal sebagai Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Pekanbaru serta sebagai ketua PGRI Kota Pekanbaru.

Dengan keempat calon yang ada tersebut, dengan beragam ide, gagasan, dengan berbagai latar belakang, pengalaman serta fakta integritas tentang mereka tentu besar harapan masyarakat Pekanbaru bahwasanya PILKADA akan datang akan mengasilkan pemimpin yang benar-benar dapat memimpin Kota Pekanbaru mendatang.

Kecemasan dan Harapan

Sebagai arena kompetisi politik, pelaksanaan PILKADA tentunya akan banyak diwarnai oleh tarikan-tarikan kepentingan dari berbagai pihak.

PILKADA tetap merupakan sebuah ajang politik, proses pelembagaan demokratisasi dalam rangka memilih kepala pemerintahan di tingkat regional. Dalam prosesnya, tentunya akan banyak banyak keentingan-kepentingan politik yang bermain, secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi proses pemilihan dan kualitas out-put yang dihasilkan. karena itu, alih-alih menciptakan konsolidasi demokrasi dan politik pasca PILKADA, akibat kepentingan-kepentingan politik yang sangat kuat, PILKADA malahan akan menjadi kontraproduktif terhadap tujuan diselenggarakannya PILKADA malah menciptakan kekacauan politik.

Wajar, sangat wajar apabila ada perasaan khawatir yang menyertai tahapan panjang PILKADA. Kekhawatiran itu disebabkan selama ini penyelenggaraan PILKADA di sejumlah daerah juga seringkali menimbulkan konflik sosial. PILKADA acap kali tidak menyatukan tetapi mengoyak-koyak  kesatuan warga dan kemudian membelahnya. Terus terang PILKADA senantiasa dimaknai sebagai sebuah arena pertempuran dalam arti yang sebenar-benarnya, karena itulah PILKADA berubah wujud dari solusi menjadi sumber masalah.

Pola konflik antar kelompok pendukung tampaknya sudah menjadi kebiasaan. Dalam banyak kasus, muncul pula pengelompokan massa pendukung dengan kecenderungan fanatik terhadap kelompoknya sekaligus mempersepsikan kelompok lain sebagai kelompok luar. Pada situasi demikian, uang, solidartas dan sentimen suku, marga, etnis, agama atau kedaerahan, misalnya isu putra daerah, biasanya menjadi pengikut persatuan di antara anggota kelompok.

Untuk itulah paradigma yang salah  selama ini harus dirubah, mari jadikan PILKADA sebagai sebuah festival gagasan, karya dan rencana dan bukan arena pertempuran, masyarakat juga jangan sampai terfragmentasi terhadap isu-isu yang akan muncul selama proses jalan PILKADA hingga 15 februari 2017. Salah satu tujuan dilaksanakannya PILKADA adalah terciptamya good goveenance dalam politik lokal. Asumsinya dengan pilkada secara langsung diharapkan akan terbangun eksekutif di daerah yang tidak saja representatif dan aspiratif, tetapi akuntabel terhadap publik di daerah. Jangan sampai PILKADA pekanbaru 15 Februari 2017 akan datang menjadi kisruh politik seperti yang terjadi pada PILKADA sebelumnya. Dinamika dalam PILKADA wajar dalam kontek konsolidasi dan penguatan demokrasi, PILKADA akan menjadi pilar yang memperkokoh bangunan demokrasi secara nasional. Terlakasananya PILKADA menunjukan adanya peningkatan demokrasi karena rakyat secara individu dan kelompok terlibat proses melahirkan pemerintahan atau pejabat negara. Jangan sampai terjadi penyimpangan-penyimpangan dari tujuan sebenarnya, yaitu pemerintahan yang baik. Semoga PILKADA Kota Pekanbaru 15 Februari 2017 mendatang dapat menjadi jalan keluar untuk mewujudkan pemerintahan yang baik khususnya di Pemerintah Kota Pekanbaru, mari jadikan PILKADA yang akan datang dengan damai, harmonis dalam dinamika dan kompetensi yang wajar .***

 Oleh : WIWIK SUPRIATIN

Administrasi Negara UIN SUSKA RIAU

 

  komentar Pembaca
Copyright © 2017 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.