Khomaini, Puasa Dan Zuhud

Senin, 06 Jun 2016 00:00
Dibaca: 135 kali
BAGIKAN:
Khomaini adalah tanda. Puasa adalah metoda. Zuhud adalah agenda. Inilah tema kita di hari ke duabelas Ramadan. Sebuah kultum pendek, bernas dan belajar langsung dengan ia yang telah melegenda (walau berbeda suku bangsa).

Sebagai legenda, hidup Khomaini adalah tapak sejarah berlumur gagasan-gagasan cemerlang, ceramah-ceramah bersemangat, ide-ide revolusioner, buku-buku yang menggugah, sikap ksatria dan zahid yg teruji.

Hasil refleksi dan proyeksi pemikirannya berhasil memikat hati jutaan rakyat Iran untuk menggerakkan revolusi. Tanpa Khomaini, tak ada negara Iran modern. Tanpa gagasan-gagasannya yang dahsyat, tak ada bangsa Iran mutakhir.

Siapa ia dan apa yang bisa kita pelajari darinya? Mari kita lihat secara jeli dan pelan. Dalam beberapa buku besar ilmu politik, ia adalah arsitektur utama negara Iran modern. Negara yang kini paling disegani oleh Amerika dan sekutunya karena martabat dan kesatria plus lubernya para patriotis di berbagai posisi pemerintahannya.

Ayatollah Ruhollah Khomeini (lahir di Khomein, Provinsi Markazi, 24 September 1902. Meninggal di Tehran, Iran, 3 Juni 1989 pada umur 86 tahun) ialah tokoh Revolusi Iran dan pemimpin agung Iran pertama. Ia belajar teologi di Arak dan di kota suci Qom, di mana ia mengambil tempat tinggal permanen guna mulai membangun dasar politik untuk melawan koloni lokal yang didukung kolonialisme internasional.

Dus, sejak lahir ia memang telah menjadi tanda. Sebab ia melawan, menang dan tidak berubah (apa adanya). Jika diringkas, pikiran dan aksinya ada sembilan. Pertama, Khomaini luas pengetahuan. Ia menguasai dengan baik khasanah ilmu-ilmu islam dan modern. Buku-buku, kurikulum, pusat studi, kampus dan jurnal tentangnya jadi bukti kongkrit atas luasnya pengetahuan dan pengaruhnya di dunia.

Kedua, ia memiliki antitesa dan alternatif dari kurikulum pendidikan yang ada. Kreasi besarnya adalah sistem politik “wilayatul fakih.” Tanpa gagasan bernas ini, Iran tak ada bedanya dengan penganut demokrasi pasar dan monarki absolut yang despotik.

Ketiga, pembela kaum tertindas. Ini konsep terdahsyat dari seluruh praktik kepemimpinannya. Menurutnya, tertindas selalu dlm konteks ekonomi-politik, konteks kemerdekaan, dan konteks fisik. Tiga dimensi itu diambil dari Al-Qur’an: fuqarâ (orang-orang fakir), masâkin (orang-orang miskin), sâilîn, al-mahrűm (orang yang tidak mau meminta-minta karena menjaga kehormatannya). Untuk yang terkahir, ayatnya berbunyi “wa fi amwâlikum haqqun li sâilîn wa al- mahrűm” (dan di dalam harta-harta kalian, terdapat hak bagi orang yang memintanya dan bagi yang tidak meminta karena menjaga kehormatannya).

Keempat, potret kehidupan yang lurus, idealis dan sufi. Jika diringkas, hidupnya hanya empat fase: lahir, jihad, zuhud dan syahid. Ia tak punya waktu mengerjakan di luar yang empat tadi. Ia tak punya praktek revolusi di akherat. Sbb, in the long run we all are dead. Akherat itu palsu. Kini dan di dunialah yg asli. Kelima, berkarakter. Dalam dirinya jelas tercetak satunya kata dan perbuatan. Sebab, “character is values in action.” Karakter adalah nilai-nilai yang diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata sehari-hari. Karakter akan terbentuk jika nilai-nilai yang diyakininya tidak hanya sekedar ide atau ucapan saja, tapi juga aksi. Dus, Khomaini adlh pemimpin berkarakter karena optimis, memiliki integritas dan dedikasi, serta tidak pernah ragu dalam bertindak.

Keenam, revolusioner. Khomaini percaya dan praktik bahwa perubahan arsitektur ekonomi-politik harus berlangsung secara cepat dan menyangkut pokok-pokok kehidupan rakyatnya. Di dalam revolusinya, perubahan yang terjadi harus direncanakan dan dapat dijalankan melalui kekerasan sepanjang untuk perbaikan nasib (maslahatul ummat).

Ketujuh, kedaulatan penuh. Dalam struktur kepemimpinannya, Khomaini mempraktekkan kedaulatan negaranya sebagai kekuasaan tertinggi yang terletak di atas semuanya karena tidak bisa dirubah dengan sistem kekuasaan apapun dan tidak bisa ditekan dari negara manapun. Negaranya memiliki kedaulatan yang berbeda dan tidak akan pernah bisa diatur oleh negara lain. Coba bandingkan dengan negara kalian.

Kedelapan, kemandirian. Khomaini tegas sekali punya sikap tidak tergantung pada negara lain. Sikap mandirinya adalah sikap untuk bertindak bebas-merdeka, melakukan sesuatu atas dorongan sendiri dan untuk kebutuhannya sendiri tanpa bantuan dari orang lain, maupun berpikir dan bertindak original/kreatif, penuh inisiatif, mempengaruhi lingkungan, punya rasa percaya diri guna memperoleh kemenangan besar bagi rakyatnya.

Kesembilan, menemukan akar kebesaran masa lalu (parsia) untuk membangun keagungan masa depan (muslim). Khomaini adalah tipikal perse dari konsep “almukhafadah ‘ala qadimisalih wal akhdu biljadidil aslah” (mampu mempertahankan masa lalu yang masih baik sambil mencipta masa depan yang lebih baik). Jarang sekali tokoh muslim yang mampu merumuskan dan mempraktekkan konsep tersebut.

Kawan-kawan yang mulia, kini apa tanda, metoda dan agenda kalian? Adakah kita akan memerdekakan diri jadi republik kelima? Aku menunggu dengan cemas dan was-was.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Nusantara Centre. Suber www.bacaberita.com
  komentar Pembaca
Copyright © 2017 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.