Investor Asing Lirik Pengolahan Limbah Sawit di Siak

Oleh: Tamam
Rabu, 26 Apr 2017 22:40
Dibaca: 120 kali
BAGIKAN:
Wakil Bupati Siak H. Alfedri usai memimpin pertemuan dengan calon investor dari Taiwan dan Malaysia.
Liputanriau.com-SIAK-Keberadaan limbah cair sisa produksi Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Kabupaten Siak, berpotensi merusak lingkungan sekitar areal perusahaan apabila tidak tertangani dengan baik. Namun sebaliknya, apabila sisa limbah tersebut dapat tingkatkan nilai gunanya menjadi bioenergi, dapat mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit dan berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi daerah. 

Demikian dikatakan Wakil Bupati H. Alfedri saat memimpin pertemuan dengan calon investor dari Taiwan dan Malaysia, di ruang rapat Pucuk Rebung, Selasa (25/04/17).

Saat ini di Kabupaten Siak ada 23 PKS (Pabrik Kelapa Sawit) yang tersebar di 14 kecamatan, 15 diantaranya berpotensi menghasilkan limbah yang dapat diolah menjadi biodiesel" sebut Alfedri. Untuk itu sebut dia, Pemkab mendukung perusahaan daerah dan OPD terkait untuk memaksimalkan peluang bisnis ini, diantaranya melalui persiapan areal KITB sebagai persiapan lahan pembangunan pabrik.

"Untuk urusan powerplan, Pemkab akan berkerjasama dengan Bumi Siak Pusako (BSP) untuk menjamin ketersediaan pasokan gas bagi pabrik yang beroperasi di KITB nantinya" jelasnya.

PT. Bosowa Indonesia sebagai mitra kerja Pemkab Siak dalam mengembangkan KITB, mempertemukan Pemkab dan calon investor dua Negara itu, dengan harapan potensi limbah B3 di Kabupaten Siak dapat tergarap dengan baik sebagaimana di Negara tetangga.

"Saat ini calon investor juga sudah membangun pabrik yang sama di kawasan Sinai Johor Malaysia. Mereka mengambangkan limbah sawit menjadi biodiesel, pupuk dan sabun" sebut Salman, perwakilan manajemen Bosowa Group untuk KITB.

Untuk itu Salman berharap, jaminan pasokan bahan baku dari 15 PKS yang ada dikabupaten siak menjadi daya tarik bagi calon investor untuk berinvestasi. "Kalaupun tidak, pasokan tetap bias kita ambil dari Pelalawan dan Kampar" ujar Salman.

Sementara itu Chang Chihyue calon investor asal Taiwan mengatakan, untuk mendirikan pabrik pengolahan limbah sawit dibutuhkan 4000 ton limbah B3 per tahun. Bahkan jika pasokan bahan baku terpenuhi, pihaknya dapat mengembangkan sektor usaha lain seperti pemanfaatan cangkang sawit.

"Lahan yang dibutuhkan untuk pendirian pabrik berkisar antara 8 - 10 Hektar. Untuk proses pembangunan infrastruktur pabrik hanya butuh waktu 10 bulan saja" sebut Chang. Namun sebagai calon investor,  kondisi akses jalan menuju kepelabuhan TJ Buton yang memprihatinkan tak luput dari perhatiannya.

Kekhawatiran Chang langsung dijawab Wabup Alfedri. Menurut dia akses jalan menuju KITB sejauh 163 Km tersebut merupakan aset muilik nasional, dan sudah diusulkan perbaikannya untuk pengerjaan tahun anggaran 2018.
  komentar Pembaca
Copyright © 2017 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.