Kamis, 05 Jan 2017 14:08

Refleksi 5 Januari 1949 Sejarah Kelam Kota Bersejarah Rengat, Inhu

BAGIKAN:

Pada tanggal 5 Januari 1949 merupakan Sejarah Kelam kota Rengat kota Bersejarah. Demikian yang di katakan Satrio Rachmazan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Indragiri Hulu (IKAMIHU), Kamis (05/01) pagi.

Sedikit flasback kejadian bersejarah tersebut yg dikutip dari situs berita tentang sejarah singkat kota rengat, bahwa Dua kapal perang milik Belanda yang datang dari arah Tembilahan tiba-tiba mendarat di Sungai Indragiri, Rabu, 5 Januari 1949, sekitar pukul 08.00 Wib. Dari dalam kapal perang bernama Gajah Merah, ratusan pasukan baret merah Belanda atau sering disebut KorpSpesialieTropen (KST) dibawah komando Kapten Skendel keluar dan membakar Markas Kodim, Markas Polisi, stasiun radio, sentral telepon, gudang pelabuhan hingga Rumah Sakit.

Kedatangan dua kapal perang Gajah Merah tersebut setelah sebelumnya pesawat Belanda membombardir Kota Rengat dan menerjunkan pasukan payung. Seketika bunyi bom yang meledak di tanah bersatu dengan pekik histeris warga yang panik.

Dengan senjata otomatis dan modern, pasukan Belanda semakin ganas dan kejam. Mereka tidak bisa lagi membedakan yang mana TNI, tentara perjuangan rakyat serta masyarakat sipil yang tidak berdosa. Tentara Belanda menembaki anak-anak, ibu hamil dan orangtua. Tidak puas sampai di situ, tentara Belanda kemudian mengumpulkan lebih 2.000 penduduk dari segala penjuru Rengat. Mereka kemudian di bariskan di pinggir Sungai Indragiri dan setelah itu terjadilah pembantaian massal. Sungai Indragiri yang kala itu tengah banjir berubah warna menjadi merah.

Bupati Indragiri Tulus yang mendapatkan laporan tentang penyerbuan tentara Belanda memilih tetap bertahan di Kota Rengat. Namun ia kemudian ditembak oleh tentara Belanda didepan istri dan anak-anaknya. Jasadnya dibuang di Sungai Indragiri bersama jasad ajudannya Tandean yang turut ditembak tentara Belanda.

Serangan yang dilancarkan oleh Belanda itu adalah upaya Belanda untuk mecah belah kabupaten indragiri supaya lepas dari NKRI, namun berkat upaya, perjuangan serta pengorbanan oleh pahlawan yang gagah berani mampu mempertahankan kabupaten indragiri ini tetap dalam kesatuan NKRI.

"Demikian kisah tragis yang pernah melanda kota rengat tercinta ini, refleksi kejadian bersejarah kelam ini tentunya harus di jadikan pelajaran berharga bagi masyarakat indragiri hulu betapa besar bencanayang telah melanda negeri para Raja kita iniâ," ujar Satrio.

"terkhusus untuk pemuda (mahasiswa) melalui momentum 5 januari 1949 ini, saya mengajak kita semua lebih peduli dan perhatian kepada kabupaten indrgairi hulu, melalui gerakan intelektual seperti lebih giat membaca, lebih mengenal dan memahami sejarah kota rengat, kerajaan indragiri dan lain-lain. Yang akan menjadi referensi penting bagi mengisi pembangunan kabupaten indragiri hulu kita ini," tambah satrio.***

  BeritaTerkait
  komentar Pembaca
Copyright © 2017 LIPUTAN RIAU. All Rights Reserved.